Percaya, Nurdin Muncul Lagi..? Ngetren Abis : The Best Widget Blog | Mau SEO Friendly Blog Kamu..?

Blogger News

  • Blockquote

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua...

  • Duis non justo nec auge

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua...

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua...

Showing posts with label Kata Mutiara. Show all posts
Showing posts with label Kata Mutiara. Show all posts

Wednesday, September 28, 2011

A Visit From Wisdom

0 comments

By: Karya Khalil Gibran
In the stillness of night Wisdom came and stood
By my bed. She gazed upon me like a tender mother
And wiped away my tears, and said : 'I have heard
The cry of your spirit and I am come to comfort it.
Open your heart to me and I shall fill it with light.
Ask of me and I shall show you the way of truth.'

And I said : 'Who am I, Wisdom, and how came
I to this frightening place? What manner of things
Are these mighty hopes and these many books and
Strange patterns ? What are these thoughts that pass
As doves in flight? And these words composed by
Desire and sung by delight, what are they? What are
These conclusions, grievous and joyous, that embrace
My spirit and envelop my heart? And those
Eyes which look at me seeing into my depths and
Fleeing from my sorrows ? And those voices mourning
My days and chanting my littleness, what are they ?

'What is this youth that plays with my desires
And mocks at my longings, forgetful of yesterday's
Deeds, rejoicing in paltry things of the moment,
Scornful of the morrow's coming?

'What is this world that leads me whither I know
Not, standing with me in despising? And this earth
That opens wide its mouth to swallow bodies and
Lets evil things to dwell on its breast? What is this
Creature that is satisfied with the love of fortune,
Whilst beyond its union is the pit? Who seeks Life's
Kiss whilst Death does smite him, and brings the
Pleasure of a minute with a year of repentance, and
Gives himself to slumber the while dreams call him?
What is he who flows with the rivers of folly to the
Sea of darkness? O Wisdom, what manner of things
Are these?'

And she answered, saying :
'You would see, human creature, this world
Through the eyes of a god. And you would seek to
Know the secrets of the hereafter with the thinking
Of men. Yet in truth is this the height of folly.
'Go you to the wild places and you shall find
There the bee above the flowers and behold the eagle
Swooping down on his prey. Go you into your neighbor's
House and see then the child blinking at the
Firelight and his mother busied at her household
Tasks. Be you like the bee and spend not the days of
Spring looking on the eagle's doing. Be as the child
And rejoice in the firelight and heed not your Mother's affairs. All that you see with your eyes was And is for your sake.

'The many books and the strange patterns and
Beautiful thoughts are the shades of those spirits
That came ere you were come. The words that you
Do weave are a bond between you and your brothers.
The conclusions, grievous and joyous, are the
Seeds that the past did scatter in the field of the
Spirit to be reaped by the future. That youth who
Plays with your desires is he who will open the door
Of your heart to let enter the light. This earth with
The ever open mouth is the savior of your spirit from
The body's slavery. This world which walks with
You is your heart; and your heart is all that you
Think that world. This creature whom you see as
Ignorant and small is the same who has come from
God's side to learn pity through sadness, and knowledge
By way of darkness.'

Then Wisdom put her hand on my burning brow
And said:
'Go then forward and do not tarry, for beforeWwalks Perfection. Go, and have not fear of thorns
On the path, for they deem naught lawful save Corrupted blood.'

Tuesday, September 27, 2011

Antara Pagi dan Malam Hari

1 comments

By: Khalil Gibran
Tenanglah hatiku, karena langit tak pun mendengari
Tenanglah, karena bumi dibebani dengan ratapan kesedihan.
Dia takkan melahirkan melodi dan nyanyianmu.
Tenanglah, karena roh-roh malam tak menghiraukan bisikan rahasiamu, dan bayang-bayang tak berhenti dihadapan mimpi-mimpi.
Tenanglah, hatiku. Tenanglah hingga fajar tiba, kerana dia yang menanti pagi dengan sabar akan menyambut pagi dengan kekuatan. Dia yang mencintai cahaya, dicintai cahaya.
Tenanglah hatiku, dan dengarkan ucapanku.

DALAM mimpi aku melihat seekor murai menyanyi saat dia terbang di atas kawah gunung berapi yang meletus.
Kulihat sekuntum bunga Lili menyembulkan kelopaknya di balik salju.
Kulihat seorang bidadari telanjang menari-menari di antara batu-batu kubur.
Kulihat seorang anak tertawa sambil bermain dengan tengkorak-tengkorak.
Kulihat semua makhluk ini dalam sebuah mimpi. Ketika aku terjaga dan memandang sekelilingku, kulihat gunung berapi memuntahkan nyala api, tapi tak kudengar murai bernyanyi, juga tak kulihat dia terbang.
Kulihat langit menaburkan salju di atas padang dan lembah, dilapisi warna putih mayat dari bunga lili yang membeku.

Kulihat kuburan-kuburan, berderet-deret, tegak di hadapan zaman-zaman yang tenang. Tapi tak satu pun kulihat di sana yang bergoyang dalam tarian, juga tidak yang tertunduk dalam doa.
Saat terjaga, kulihat kesedihan dan kepedihan; ke manakah perginya kegembiraan dan kesenangan impian?
Mengapa keindahan mimpi lenyap, dan bagaimana gambaran-gambarannya menghilang? Bagaimana mungkin jiwa tertahan sampai sang tidur membawa kembali roh-roh dari hasrat dan harapannya?

DENGARLAH hatiku, dan dengarlah ucapanku.
Semalam jiwaku adalah sebatang pohon yang kokoh dan tua, menghunjam akar-akarnya ke dasar bumi dan cabang-cabangnya mencekau ke arah yang tak terhingga.
Jiwaku berbunga di musim bunga, memikul buah pada musim panas. Pada musim gugur kukumpulkan buahnya di mangkuk perak dan kuletakkannya di tengah jalan. Orang-orang yang lalu lalang mengambil dan memakannya, serta meneruskan perjalanan mereka.

KALA musim gugur berlalu dan gita pujinya bertukar menjadi lagu kematian dan ratapan, kudapati semua orang telah meninggalkan diriku kecuali satu-satunya buah di talam perak.
Kuambil ia dan memakannya, dan merasakan pahitnya bagai kayu gaharu, masam bak anggur hijau.

Aku berbicara dalam hati,”Bencana bagiku, karena telah kutempatkan sebentuk laknat di dalam mulut orang-orang itu, dan permusuhan dalam perutnya.
” Apa yang telah kaulakukan, jiwaku, dengan kemanisan akar-akarmu itu yang telah meresap dari usus besar bumi, dengan wangian daun-daunmu yang telah meneguk cahaya matahari?”

Lalu kucabut pohon jiwaku yang kukuh dan tua.
Kucabut akarnya dari tanah liat yang di dalamnya dia telah bertunas dan tumbuh dengan subur. Kucabut akar dari masa lampaunya, menanggalkan kenangan seribu musim bunga dan seribu musim gugur.

Dan kutanam sekali lagi pohon jiwaku di tempat lain.
Kutanam dia di padang yang tempatnya jauh dari jalan-jalan waktu. Kulewatkan malam dengan terjaga di sisinya, sambil berkata,”Mengamati bersama malam yang membawa kita mendekati kerlipan bintang.”

Aku memberinya minum dengan darah dan airmataku, sambil berkata,”Terdapat sebentuk keharuman dalam darah, dan dalam airmata sebentuk kemanisan.”
Tatkala musim bunga tiba, jiwaku berbunga sekali lagi.

PADA musim panas jiwaku menyandang buah. Tatkala musim gugur tiba, kukumpulkan buah-buahnya yang matang di talam emas dan kuletakkan di tengah jalan. Orang-orang melintas, satu demi satu atau dalam kelompok-kelompok, tapi tak satu pun menghulurkan tangannya untuk mengambil bahagiannya.

Lalu kuambil sebuah dan memakannya, merasakan manisnya bagai madu pilihan, lazat seperti musim bunga dari syurga, sangat menyenangkan laksana anggur Babylon , wangi bak wangi-wangian dari melati.

Aku menjerit,”Orang-orang tak menginginkan rahmat pada mulutnya atau kebenaran dalam usus mereka, karena rahmat adalah puteri airmata dan kebenaran putera darah!”
Lalu aku beralih dan duduk di bawah bayangan pohon sunyi jiwaku di sebuah padang yang tempatnya jauh dari jalan waktu.

TENANGLAH, hatiku, hingga fajar tiba.
Tenanglah, karena langit menghembus bau hamis kematian dan tak bisa meminum nafasmu.

Dengarkan, hatiku, dan dengarkan aku bicara.
Semalam fikiranku adalah kapal yang terumbang-ambing oleh gelombang laut dan digerakkan oleh angin dari pantai ke pantai
Kapal fikiranku kosong kecuali untuk tujuh cawan yang dilimpahi dengan warna-warna, gemilang berwarna-warni.

Sang waktu datang kala aku merasa jemu terapung-apungan di atas permukaan laut dan berkata, “Aku akan kembali ke kapal kosong fikiranku menuju pelabuhan kota tempat aku dilahirkan.”

Tatkala kerjaku selesai, kapal fikiranku
Aku mulai mengecat sisi-sisi kapalku dengan warna-warni – kuning matahari terbenam, hijau musim bunga baru, biru kubah langit, merah senjakala yang menjadi kecil. Pada layar dan kemudinya kuukirkan susuk-susuk menakjubkan, menyenangkan mata dan menyenangkan penglihatan.

Tatkala kerjaku selesai, kapal fikiranku laksana pandangan luas seorang nabi, berputar dalam ketidakterbatasan laut dan langit. Kumasuki pelabuhan kotaku, dan orang muncul menemuiku dengan pujian dan rasa terima kasih. Mereka membawaku ke dalam kota , memukul gendang dan meniup seruling.

Ini mereka lakukan kerana bahagian luar kapalku yang dihias dengan cemerlang, tapi tak seorang pun masuk ke dalam kapal fikiranku.
Tak seorang pun bertanya apakah yang kubawa dari seberang lautan
Tak seorang pun tahu kenapa aku kembali dengan kapal kosongku ke pelabuhan.
Lalu kepada diriku sendiri, aku berkata,”Aku telah menyesatkan orang-orang, dan dengan tujuh gelas warna telah kudustai mata mereka”

Setelah setahun aku menaiki kapal fikiranku dan kulayari di laut untuk kedua kalinya.
Aku berlayar menuju pulau-pulau timur, dan mengisi kapalku dengan dupa dan kemenyan, pohon gaharu dan kayu cendana.

Aku berlayar menuju pulau-pulau barat, dan membawa biji emas dan gading, batu merah delima dan zamrud, dan sulaman serta pakaian warna merah lembayung.
Dari pulau-pulau selatan aku kembali dengan rantai dan pedang tajam, tombak-tombak panjang, serta beraneka jenis senjata.

Aku mengisi kapal fikiranku dengan harta benda dan barang-barang lhasil bumi dan kembali ke pelabuhan kotaku, sambil berkata, “Orang-orangku pasti akan memujiku, memang sudah pastinya. Mereka akan menggendongku ke dalam kota sambil menyanyi dan meniup trompet”

Tapi ketika aku tiba di pelabuhan, tak seorangpun keluar menemuiku. Ketika kumasuki jalan-jalan kota , tak seorang pun memerhatikan diriku.

Aku berdiri di alun-alun sambil mengutuk pada orang-orang bahwa aku membawa buah dan kekayaan bumi. Mereka memandangku, mulutnya penuh tawa, cemuhan pada wajah mereka.
Lalu mereka berpaling dariku.

Aku kembali ke pelabuhan, kesal dan bingung. Tak lama kemudian aku melihat kapalku. Maka aku melihat perjuangan dan harapan dari perjalananku yang menghalangi perhatianku. Aku menjerit.

Gelombang laut telah mencuri cat dari sisi-sisi kapalku, tak meninggalkan apa pun kecuali tulang belulang yang bertaburan.

Angin, badai dan terik matahari telah menghapus lukisan-lukisan dari layar, memudarkan ia seperti pakaian berwarna kelabu dan usang.

Kukumpulkan barang-barang hasil dan kekayaan bumi ke dalam sebuah perahu yang terapung di atas permukaan air. Aku kembali ke orang-orangku, tapi mereka menolak diriku kerana mata mereka hanya melihat bahagian luar.

Pada saat itu kutinggalkan kapal fikiranku dan pergi ke kota kematian. Aku duduk di antara kuburan-kuburan yang bercat kapur, merenungkan rahsia-rahsianya.


TENANGLAH, hatiku, hingga fajar tiba.
Tenanglah, meskipun prahara yang mengamuk mencerca bisikan-bisikan batinmu, dan gua-gua lembah takkan menggemakan bunyi suaramu.

Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba. Kerana dia yang menantikan dengan sabar hingga fajar, pagi hari akan memeluknya dengan semangat.

NUN di sana ! Fajar merekah, hatiku. Bicaralah, jika kau mampu bicara!
Itulah arak-arakan sang fajar, hatiku! Akankah hening malam melumpuhkan kedalaman hatimu yang menyanyi menyambut fajar?

Lihatlah kawanan merpati dan burung murai melayang di atas lembah. Akankah kengerian malam menghalangi engkau untuk menduduki sayap bersama mereka?

Para pengembala memandu kawanan dombanya dari tempat ternak dan kandang.
Akankah roh-roh malam menghalangimu untuk mengikuti mereka ke padang rumput hijau?
Anak lelaki dan perempuan bergegas menuju kebun anggur. Kenapa kau tak berganjak dan berjalan bersama mereka?

Bangkitlah, hatiku, bangkit dan berjalan bersama fajar, karena malam telah berlalu. Ketakutan malam lenyap bersama mimpi gelapnya.

Bangkitlah, hatiku, dan lantangkan suaramu dalam nyanyian, karena hanya anak-anak kegelapan yang gagal menyatu ke dalam nyanyian sang fajar.

Laughter and Tears IX

0 comments

By: Khalil Gibran
As the Sun withdrew his rays from the garden, and the moon threw cushioned beams upon the flowers, I sat under the trees pondering upon the phenomena of the atmosphere, looking through the branches at the strewn stars which glittered like chips of silver upon a blue carpet; and I could hear from a distance the agitated murmur of the rivulet singing its way briskly into the valley.

When the birds took shelter among the boughs, and the flowers folded their petals, and tremendous silence descended, I heard a rustle of feet though the grass. I took heed and saw a young couple approaching my arbor. The say under a tree where I could see them without being seen.

After he looked about in every direction, I heard the young man saying, "Sit by me, my beloved, and listen to my heart; smile, for your happiness is a symbol of our future; be merry, for the sparkling days rejoice with us.

"My soul is warning me of the doubt in your heart, for doubt in love is a sin. "Soon you will be the owner of this vast land, lighted by this beautiful moon; soon you will be the mistress of my palace, and all the servants and maids will obey your commands.

"Smile, my beloved, like the gold smiles from my father's coffers.

"My heart refuses to deny you its secret. Twelve months of comfort and travel await us; for a year we will spend my father's gold at the blue lakes of Switzerland, and viewing the edifices of Italy and Egypt, and resting under the Holy Cedars of Lebanon; you will meet the princesses who will envy you for your jewels and clothes.

"All these things I will do for you; will you be satisfied?"

In a little while I saw them walking and stepping on flowers as the rich step upon the hearts of the poor. As they disappeared from my sight, I commenced to make comparison between love and money, and to analyze their position in the heart.

Money! The source of insincere love; the spring of false light and fortune; the well of poisoned water; the desperation of old age!

I was still wandering in the vast desert of contemplation when a forlorn and specter-like couple passed by me and sat on the grass; a young man and a young woman who had left their farming shacks in the nearby fields for this cool and solitary place.

After a few moments of complete silence, I heard the following words uttered with sighs from weather-bitten lips, "Shed not tears, my beloved; love that opens our eyes and enslaves our hearts can give us the blessing of patience. Be consoled in our delay our delay, for we have taken an oath and entered Love's shrine; for our love will ever grow in adversity; for it is in Love's name that we are suffering the obstacles of poverty and the sharpness of misery and the emptiness of separation. I shall attack these hardships until I triumph and place in your hands a strength that will help over all things to complete the journey of life.

"Love - which is God - will consider our sighs and tears as incense burned at His altar and He will reward us with fortitude. Good-bye, my beloved; I must leave before the heartening moon vanishes."

A pure voice, combined of the consuming flame of love, and the hopeless bitterness of longing and the resolved sweetness of patience, said, "Good-bye, my beloved."

They separated, and the elegy to their union was smothered by the wails of my crying heart.

I looked upon slumbering Nature, and with deep reflection discovered the reality of a vast and infinite thing -- something no power could demand, influence acquire, nor riches purchase. Nor could it be effaced by the tears of time or deadened by sorrow; a thing which cannot be discovered by the blue lakes of Switzerland or the beautiful edifices of Italy.

It is something that gathers strength with patience, grows despite obstacles, warms in winter, flourishes in spring, casts a breeze in summer, and bears fruit in autumn -- I found Love.

Support us

Dono Ilmu News

 

Free E-Books

Free Templates

Free Software

Kreasi Blog Kang Fathur © 2012. All Rights Reserved | Modificated by Kang Onk Design | Design by Brian Gardner